
Pak Liliek adalah seorang pengayuh becak yang sehari-harinya mangkal di perempatan Malioboro dan jalur Keretaapi Stasion Yogya. Ia menunggu para wisatawan yang selesai berbelanja di kios-kios pengrajin dan pertokoan sepanjang jalan Malioboro, selain juga para penumpang Keretaapi yang turun-naik di Stasion KA Yogyakarta. Itulah kehidupan rutinnya sehari-hari selama bertahun-tahun tanpa ada prospek perbaikan.
Pak Liliek juga pernah mencoba mencari nafkah di pabrik sepatu Spotec di Bekasi, Jawa Barat. Namun Ia bernasib sial, sebab Pabrik Sepatu Spotec terpaksa harus ditutup disebabkan karena sudah tidak menguntungkan lagi dan tidak kompetitif terhadap pabrik-pabrik sepatu lainnya di Vietnam, Thailand dan Cina.
Ia akhirnya harus kembali ke kampung-halamannya di Jawa Tengah, dan Ia kemudian mencoba peruntungan untuk menopang hidupnya dan keluarganya sebagai pengayuh becak. Ini adalah profesi yang satu-satunya dapat Ia kerjakan sesuai dengan keampuan atau keahliannya. Namun ditengan Krisis Finansial Global, makin sedikit saja para penumpang atau turis yang mau menaiki becak-nya, walaupun Ia sudah membanting tarifnya sebesar Rp5.000,- jauh-dekat. Sungguh malang nasibnya dan nasib orang-orang kecil disekeliling kita.
Adakah Pemimpin Indonesia yang mau mendengar dan memperhatikan nasibnya dan nasib rakyat kecil lainnya di Indonesia, serta berupaya semaksimalnya untuk menaikkan taraf hidup mereka? Padahal kita ini sudah mengenyam alam kemerdekaan selama 63 tahun dari Penjajahan Jepang dan Penjajahan Belanda. Dulu cita-cita para pejuang Angkatan 45 yang tak takut mati adalah menciptakan sebuah negara Indonesia Merdeka, berdaulat penuh untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang aman, makmur, adil dan sejahtera bagi segenap rakyatnya.
Apakah kita masih menunggu Ratu Adil atau sang Heru Cokro seperti yang diramalkan oleh Prabu Joyoboyo sekitar seribu tahun yang lalu? Kapan? Tahun 2009 ini?
No comments:
Post a Comment